Siapa Aku adalah Pertanyaan Klasik


Pertanyaan siapa aku, memang pertanyaan klasik, namun masih bakal bersinggah sampai sekarang, setiap generasi pasti ada-ada saja yang mempertanyakan keakuannya. Mau tidak mau! Diam-diam ia mencari jawabannya sendiri.

Ia menelusuri lewat fisiknya.

Ia menelusuri lewat aktifitasnya.

Ia menelusuri lewat sejarahnya.

Ia menelusuri lewat riwayat hidup keluarganya.

Ia menelusuri hal-hal yang disukainya.

Ia menelusuri tentang siapa manusia.

Ia menelusuri tentang apa itu hidup.

Jawabku, wajar si aku mencari keakuannya, ia mempunyai waktu yang luang untuk mencari itu. Ia mempunyai alasan untuk mencari itu.

Kemudian ia terjebak pada jalinan-epistemologi keakuan

Ia terjebak pada pencarian lewat buku-buku.

Ia terjebak pada teks-teks.

Ia terjebak dalam pikirannya sendiri.

Jawabku, wajar kalau dia menelusuri lebih jauh tentang keakuannya lewat media yang lain, sebab kalau menelusuri lewat dirinya sendiri, lewat di dalam dirinya sendiri, itu terlalu kewalahan dan bakal terlalu mbulet jawabannya. Atau jawabannya terlalu ringkas namun tidak memuaskan. Wajar kalau dia menelusuri lebih lanjut, ia berusaha mencari kepuasan dengan jawaban-jawaban yang didapatkan. Sayangnya, jawaban-jawaban itu senantiasa tidak terpuaskan.

Akhirnya dia memutuskan untuk bekerja secara realitas. Bekerja secara nyata. menerima dunia ala kadarnya. Menerima aktifitas keduniaanya. Sekali pun dalam pikirannya, dalam hatinya, masih ragu terhadap ‘keakuannya’. Lalu dia menangkap orang-orang tatkala ditanya: siapa kamu? Orang-orang yang dia lihat, menjawabnya dengan ringan. Menjawabnya dengan mudah. Karena dia masih ragu, maka dia bertanya kepada orang yang ringan menjawab dirinya:

“Apakah kamu telah menemukan keakuanmu?”

Sudah. Aku adalah taufik, jawabnya.

“Apa yang membuatmu percaya bahwa kamu adalah Taufik?” balas dia, dengan pertanyaan aneh.

Pertanyaan yang membuat geli orang yang mendengarkan. Namun, sangat serius buat dia yang mencari jawaban keakuannya. Sangat serius.

Sebab baginya, sangat terngiang dengan kalimat: siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal tuhannya.

Baginya, tatkala orang telah mengenal dirinya, pastilah dia, orang yang sangat percaya kepada Tuhan. Pastilah dia, orang yang kuat sekali kepercayaannya. Pastilah dia, menjalani hidup dalam kasih Tuhan. Lalu orang tersebut akan taat kepada agama. Akan taat terhadap kajian islam. Akan taat dengan apa-apa yang diperintahkan Tuhan. Akan taat dengan Kanjeng Nabi.

Di sisi yang lain, dia juga percaya, tidak harus terjebak dalam ritual pencarian keakuan. Tidak harus. namun dirinya telah digiring untuk mencari keakuannya. Telah diarak untuk mencari keakuannya.

Sebenarnya, dia ingin puas dengan jawaban yang sederhana, namun hati dan pemikirannya, selalu tidak puas. Selalu tidak puas.

Dan dia ingin keluar dengan jawaban keakuannya, sayangnya tidak bisa. Dia telah digiring untuk menjawab sendiri apa yang dipertanyakan. Sebab, jawaban itu, tidak bisa diwakilkan oleh orang lain. Tidak bisa. Syaratnya harus dijawab sendiri. Harus.

Selain itu, dia sebenarnya telah mengetahui bahwa pertanyaan ini, siapa aku, adalah pertanyaan klasik, telah banyak orang yang menjawabnya, sayangnya dia tidak puas dengan apa yang dijawabkan orang-orang, karena pikirnya: dia itu manusia yang berbeda zamannya, bagaimana mungkin aku menyamakan diriku dengannya.

Jawabku, kamu memang harus menjawab sendiri, supaya kamu mengerti, memahami rasanya: dan bagaimana engkau memahami rasa kopi kalau kamu sekedar melihatnya? Reguklah. Perlahan-lahan. Kopi itu nikmat kalau panas. Sripit-sripitlah. Pelan-pelanlah. Katakan padaku: apa rasanya kopi yang kau reguk itu?

Jelaskan…

Belum ada Komentar untuk "Siapa Aku adalah Pertanyaan Klasik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel