Kehidupan Teknologi

teknologi_hidayat tf




Kehidupan-teknologi semakin mewabah di Indonesia, semakin mewabah sampai desa-desa, sampai pelosok-pelosok, perlahan-lahan, teknologi menggeser manual menjadi sesuatu yang lebih praktis. Bersamaan dengan itu, pergeseran makna kehidupan pun bergeser.

Semula lama, sekarang cepat (jarak tempuh)

Semula jauh, sekarang dekat (jarak tempuh)

Semula lisan nyata, sekarang lisan-sambungan (Handphone)

Semula ketemu langsung, sekarang ketemu-sambungan (tablet)

Semula mendengar, sekarang mampu menyimpan (Laptop/computer)

Semula konser nyata, sekarang tinggal tonton di layar (Internet)

Begitulah zaman sekarang, jalinan romantis antara teknologi dan kehidupan. Menggeser keseluruh tatanan kehidupan. Bahkan kenyataan pun bergeser.

Hubungan telphonan tetap dianggap nyata, walau tidak nyata benar, walau sekedar lewat suara.

Terlebih lagi, sekarang telphonan bisa melihat-wajah demi wajah.

Apa itu kenyataan? Apa itu komunikasi secara nyata?

Bahkan kata-kata dasar semakin bertambah maknanya. Apa itu kenyataan? Jawablah dengan pertanyaan sambil mengenan jalinan komunikasi manusia lewat jaringan—lewat alat-alat elektronik, yang setiap manusia sekarang mempunyai. Yang setiap manusia mempunyai hal itu.

Kalau tidak mempunyai hal itu, maka bakal ketinggalan zaman. Tertinggal oleh zaman. Sebab semuanya menggunakan hal itu. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya teknologi sangat membantu, namun juga dampaknya juga semakin mengerikan.

Manusia terdorong menjadi materialistis. Manusia terdorong keras untuk bersifat kepemilikan harta. Tujuannya demi memenuhi kebutuhan hidup, yang serba teknologi.

Bersamaan dengan itu, kehidupan-sekarang, mulai bercampur-campur baru dengan durasi sejarah yang berbeda-beda. Setiap menggunakan teknologi, bisa memilih sesuatu lalu membuat komunitas-komunitas. Kehidupan berkumpul-kumpul menjadi kpmunitas demi komunitas.

Sesungguhnya apanya yang aneh dengan hal tersebut? Bagi saya, tidak ada yang aneh. Manusia memang setiap individu-berbeda, dan zaman sekarang adalah semakin mengokohkan tentang karakter manusia yang memang sarat dengan egoisme, individualism, tukang pilih, tukang mencari kebahagiaan, tukang macem-macem: dan hamper semua mengendalikan teknologi.

Jika pun orang tua, renta, pasti juga menggunakan teknologi. Pasti. Sekali pun dia tidak menyangking alat tersebut, pastilah anak-anaknya, atau cucunya, mengantarkan nenek-kakeknya untuk menggunakan teknologi.

Ini telephone dari Papa, Kek, kata cucunya.

Papa mau berbicara dengan kakek, ini, kata cucunya sambil menyodorkan handhphonenya. Dan akhirnya, si kakek turut serta menggunakan teknologi. Si kakek berbicara dengan anak kandungnya, layaknya berbicara tatkala anaknya ada, sebab si kakek adalah orang yang buta.

Selanjutnya, kakek yang lain, kakek yang tinggal bersama cucunya. Si cucu sedang berbicara dengan ayahnya via handhphone. Lalu mendekati kakeknya dan menyodorkan handhphone dan bersama itu, si kakek langsung melihat wajah anaknya. Si kakek berkata:

Zaman sekarang canggih ya… kita bisa saling melihat.

Iya, Pak, memang beginilah zaman sekarang. Tidak bisa dipungkiri. Bakal menjadi seperti ini, kita kaum Indonesia, hanya bisa menikmati, pak, apalagi kita orang desa, tentu hanya bisa menikmati dengan cara membeli.

Toh harganya tidak mahal-mahal amat. Harganya terjangkau. Teknologi sekarang telah melimpah. Di pasar-pasar ada. Hidup sekarang lebih praktis dibanding hidup dahulu kala, yang harus dikerjakan secara manual, sekali pun masih banyak yang dikerjakan secara manual. Namun umumnya, zaman sekarang dikerjakan oleh mesin. Kehidupan-teknologi laksana darah yang melekat pada manusia.

Listrik adalah darah yang lain, yang tatkala mati-lampu (padam-listrik) manusia kewalahan. Manusia geger mau ngeces, cari colokan, cari carger, cari pengantar listirik, atau meyediakan ‘aki’-‘aki’ yang lain. Pokoknya, zaman sekarang adalah darahnya teknologi—sekalipun belum mewabah benar. Tapi sebentar lagi, aspal-aspal akan sampai pada pelosok-pelosok desa, dan desa akan tersebari ‘virus’ teknologi: tatakrama menjadi aneh, di kota, undang-undang mulai sering lewat teknologi. Begitulah, Pak. Teknologi telah menjadi darah buat manusia kekinian. Teknologi telah membaur di zaman kekinian.

Untung ada agama islam—ini bukan berarti bahwa saya beragama islam, lalu menyontohkan tentang agama islam: begini, agama islam adalah mendorong manusia untuk realitas yang real, sekali pun di zaman serba teknologi, serba praktis, serba jaringan: islam mengajak untuk kenyataan yang sesungguhnya, yakni harus melakukan shalat yang njengkang-jengking, harus melakukan wudhu yang itu harus dibasuh wajahnya, tanganya, sebagian kepalanya, dan kakinya, harus: shalat dan wudhu adalah kekuatan besar islam untuk realitas yang sesungguhnya— dengan adanya itu, maka orang masih tetap menyatakan realitas adalah kenyataan yang sesunguhnya. Dengan demikian, shalat benar-benar tiangnya agama. Shalat –yang njengkang-njengking itu—adalah mengajak, mengharuskan, manusia untuk saling menyaling bertemu dengan yang lain.

Syukur-syukur kalau sehari lima kali—maksudnya shalat dhuhur, asar, magrib, isya, dan subuh—menunaikan shalat jamaah. Kalau tidak, maka magrib dan isya. Kalau tidak, maka minimal dan ini yang paling diwajibkan—ditunaikan, harus—yakni sepekan sekali. Itulah ukuran mentok, tok, tok. Dari perkumpulan manusia, yang senantiasa mengantarkan manusia menjadi manusiawi sekalipun sekarang berada pada kehidupan-teknologi.

2017

Belum ada Komentar untuk " Kehidupan Teknologi "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel