MENCARI JATI DIRI: TENTANG INDIVIDU YANG SESUNGGUHNYA



Harusnya tidak bertanya: siapa sebenarnya diriku? Karena kita telah mempunyai Kartu Tanda Pengenal, telah mempunyai kartu-kartu pengenal yang lain. Jelaslah bahwa itu adalah kita. Itulah ‘keakuan’ kita. Harusnya kita tidak bertanya-tanya lebih tentang hal itu: tentang diri kita? Harusnya tidak hilang.

Memangnya sejak kapan kita ‘kehilangan’ identitas? Sehingga kita harus mencari!

Memangnya kita ‘kehilangan’ identitas, sehingga kita harus mencari?

Tidakkah cukup bahwa nama adalah tanda dari kita?

Sebenarnya apa yang ingin dicari dari keakuan yang sesungguhnya. Sesunguh-sungguh apa kita mau dapatkan dari pertanyaan: siapa aku?

Jawabnya, bisa jadi kita termotivasi dengan ‘kata-kata’, siapa yang mengenal dirinya maka mengenal tuhannya. lalu setelah mengenal tuhannya, doanya gampang diijabah, atau menjadi manusia yang dekat dengan tuhannya. Sangat akrab dengan tuhan.

Jika itu maumu: --maafkanlah, saya harus berkasar kata kepadamu—kenalilah, tatkala engkau akrab dengan tuhan, dan sangat akrab dengan tuhan, maka engkau harus menjadi ‘wakil’ tuhan, yakni bersikap sayang kepada siapa-pun, bersikap lembut kepada siapa-pun, bersikap cinta kepada siapa-pun, dan siap menerima tampungan eluhan dari siapa-pun, bersikap adil kepada siapa-pun. Dan tirulah sifat-sifat yang disandangkan kepada Tuhan. Karena keberadaanmu mengisyaratkan ‘keberadaan’ Tuhan.

Sebelum itu, maka sungguh, untuk mendapatkan tentang ‘ketuhanan’ bukanlah perkara yang mudah: engkau harus mengerti tanda-tanda dari Tuhan.

Engkau harus mengerti sifat-sifat Tuhan.

Engkau harus mengerti hokum-hukum Tuhan.

Lebih esensial lagi: engkau harus mengerti Tuhan.

Begitulah: kalau kesungguhmu ingin mengenal diri lalu bertujuan mengenal tuhan, maka harusnya begitu. dengan begitu, engkau benar-benar mengerti tentang dirimu. Kalau engkau sekedar mencari dari pihak dirimu, dan engkau lalai tujuanmu: maka pencarianmu mentok kepada dirimu. Mencari identitas tentang keakuanmu.

Memangnya sejak kapan engkau kehilangan keakuan?

Kenapa tidak engkau laporkan ‘keakuanmu’ di kantor polisi?

Kalau ‘keakuanmu’ itu jahat, biarkan polisi menangkapnya?

Jika engkau menggelak dengan pertanyaan itu, maka sesungguhnya ‘aku’ yang seperti apa yang engkau cari?

Jawabnya: kenalilah, asal-usul kalimat itu mendengung karena engkau berusaha mengakrabkan-dirimu. Akrab yang seperti apa? Yakni, engkau hapal tentang gerak-gerikmu, engkau hapal tentang arahmu, engkau hapal sifat-sifatmu. Jika engkau ingin mencari, terapkanlah hal ini:

Tuliskanlah tentang sejarah tempatmu

Tuliskanlah tentang sekolah-sekolahmu

Tuliskanlah buku-buku yang engkau baca.

Tuliskanlah orang-orang yang engkau jumpa.

Sebab dirimu berhubungan dengan hal itu, dan engkau terpengaruh besar dengan hal itu. pengalamanmu berbeda dengan pengalaman yang lain. Ilmu-psikotes mampu menebak, tapi tidak mampu menebakmu secara penuh. Ketahuilah, ilmu-psikotes itu digunakan masih-secara-umum (sekali pun pengetesannya secara khusus, sekali pun pengetesannya adalah individu, namun bisa dibilang umum: karena teks psikotes adalah membaca menurut keumuman. Ukurannya tentang keilmiahan. Ukurannya lagi tentang kemanusiaan.) adakalanya benar, tapi tidak tepat seperti apa yang kau harapkan. T idak tepat seperti apa yang kau harapkan. Kata kunci yang penting diingat adalah TIDAK TEPAT. Ya, test demi test itu memang sangat membantumu. Namun engkau tidak puas dengan apa yang engkau dapatkan itu. sebab jawaban utama dari pertanyaan ‘keakuan’ adalah diri sendiri.

Sebab pertanyaan itu ‘nyelip’ pada dirimu sendiri. Kamulah yang mampu menjawab. Kamulah yang bisa menjawab. Caranya lagi:

Tuliskan pergerakanmu dalam keseharian— ini akan menunjukkan bagaimana ‘kemauan’ dan sifatmu yang telah ditetapkan.

Tuliskan orang-orang yang menginspirasimu—ini akan menunjukkan ‘pencapaian’ dari gerak-gerikmu.

Tuliskan bagaimana keluargamu – ini akan menunjukkan bagaimana ‘watak’ alami dirimu: sifat alami dirimu.

Tuliskan bagaimana pergaulanmu (perkumpulanmu)—ini akan menunjukkan bagaimana ‘orang-orang yang cocok denganmu’ dan lebih menekankan tentang pemikiranmu. Pergaulan yang seperti apa? Yang engkau merasa senang dan gembira, dan mereka menerima dengan lapang dan bahkan mengapresiasi dirimu.

Tuliskan bagaimana dirimu dalam pergaulan—ini akan menunjukkan sikap-sikapmu, akan memaparkan watak alami dirimu. Watak asli dirimu. Karakter yang kau harapkan. Karakter yang kau dampakan. Dan amatilah kalimat-kalimatmu. Amatilah keputusan-keputusanmu. Amatilah tentang arah pembicaraanmu. amatilah tentang arah kemauanmu.

Itulah dirimu. Begitulah dirimu. Sebab yang mampu menjawab adalah dirimu. Hanya dirimu. Alasannya?

Engkau berbeda perkumpulan denganku.

Engkau berbeda keluarga denganku.

Engkau berbeda tradisi denganku.

Sekali pun kita sama-sama manusia. Tetap, kita berbeda. Sekali pun banyak persamaan. Tetap, kita berbeda.

Akhir kata, bersabarlah. Untuk mendapatkan apa yang kita mau, memang tidak mudah menjawab: Saya adalah taufik. Sebab itu persoalan ‘pribadi’, maka jawabnya ada pada diri-pribadi.

Selamat berjuang…

bacaan yang berhubungan:
pencarian jati diri: realitas yang sesungguhnya
negeri pencarian jati-diri

Belum ada Komentar untuk "MENCARI JATI DIRI: TENTANG INDIVIDU YANG SESUNGGUHNYA "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel